Cerita Pedagang Ikan Asap yang Tetap Bertahan di Tengah Derasnya Industri 4.0

 


REMBANG, Pena - Cerita Pedagang Ikan Asap yang Tetap Bertahan di Tengah Derasnya Industri 4.0

Ibu Sumisih (60), seorang penjual ikan asap di Pasar Desa Jolotundo, Kecamatan Lasem tetap bertahan meski kini pendapatannya menurun drastis di tengah Pandemi covid-19. Tim Penajurnalistie pun berkesempatan menelusuri kisah Ibu Sumisih pada Jumat (09/4/2021) pukul 17.10 WIB. Ia menyebut sebelum pandemi, dirinya mampu memproduksi ikan asap hingga 15 kilogram lebih per harinya. "Sekarang paling banyak hanya 10 kilogram saja, sebab pembeli di pasar berkurang", ungkap Sumisih pada kamis (08/4/2021).

Ia telah berjualan ikan asap sejak 25 tahun yang lalu, dalam kesehariannya dibantu oleh anak perempuannya yang bernama Wantik (40). Ikan-ikan itu di datangkan langsung dari Pantai Bonang, Desa Bonang, Kecamatan Lasem. Mereka yang tinggal di Dukuh Cikalan, Desa Sumbergirang RT. 01/RW. 07, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang itu memproduksi ikan asap dari jenis ikan pee, tongkol, salem, juwi, ikan gatel, cucut, dan masih banyak lagi.

Dijelaskannya, untuk proses pengasapan ikan 12 kilogram mengabiskan waktu kurang lebih 3 jam, mulai dari jam 9-12 malam dengan menggunakan bara dari bahan kayu. Ikan 12 kilogram jika di proses untuk dijadikan ikan asap menjadi 200 japit. Jika sudah matang untuk satu japitnya ia jual mulai dari harga Rp. 1.000 - Rp. 3.000. "Setelah jadi kami jual di pasar sejak pukul 04.30 WIB", Pungkasnya.

Penulis : Awalin Nabila
Editor : Irzha Ahmad Rizky

Posting Komentar

0 Komentar